Logo Putih Hi-Target Official Distributor - Indonesia

Pemanfaatan LiDAR untuk Visualisasi 3D Kota dan Aplikasinya di Berbagai Sektor

Pemanfaatan_LiDAR_untuk_Visualisasi_3D_Kota_dan_Aplikasinya_di_Berbagai_Sektor

Kemajuan teknologi geospasial telah mengubah cara kita melihat dan memahami kota. Salah satu teknologi paling mutakhir yang kini banyak dimanfaatkan adalah LiDAR (Light Detection and Ranging). Dengan menggunakan pancaran sinar laser dan mengukur waktu pantulan kembali dari objek ke sensor, LiDAR mampu membentuk kumpulan titik-titik 3D (point cloud) yang akurat. Teknologi ini menjadi solusi cerdas untuk menghasilkan model kota tiga dimensi (3D city model) secara cepat dan detail, menggantikan metode pemetaan konvensional yang memakan waktu dan biaya besar.

Suatu penelitian yang dilakukan oleh Noviana, Prihatmanti, dan Mustofa pada tahun 2021 menunjukkan bagaimana data LiDAR dapat dimanfaatkan untuk membangun visualisasi Kota Jakarta dalam bentuk 3D. Studi ini mengambil lokasi pada jalur padat antara Stasiun Gambir hingga Gondangdia, yang merupakan kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan bangunan tinggi dan kompleksitas arsitektur yang beragam.

Dalam perencanaan kota dan pengelolaan ruang, model 3D merupakan salah satu aspek penting karena memberikan gambaran spasial yang lebih lengkap, termasuk ketinggian bangunan, struktur atap, dan hubungan antar objek secara vertikal.

lokasi penelitian untuk visualisasi kota
Gambar 1. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini, proses pemodelan dimulai dari klasifikasi data LiDAR untuk memisahkan objek bangunan dari vegetasi dan permukaan tanah. Pengolahan data dilakukan menggunakan software MicroStation V8i yang dilengkapi dengan plug in TerraScan dan TerraModeler.

Setelah data bangunan berhasil diekstrak, bentuk atap bangunan dimodelkan dalam kategori Level of Detail 2 (LoD 2), yaitu representasi bangunan yang menampilkan struktur atap secara geometris. Untuk bangunan yang memiliki atap sederhana seperti datar atau pelana, pemodelan dapat dilakukan secara otomatis. Namun, untuk bangunan yang saling berdekatan atau memiliki bentuk atap kompleks harus dimodelkan secara manual untuk memastikan ketepatan bentuknya. Contoh model bangunan yang dilakukan secara manual maupun otomatis dapat dilihat pada gambar gambar berikut.

Model Bangunan dengan Bentuk Atap Sederhana Metode Otomatis
Gambar 2. Model Bangunan dengan Bentuk Atap Sederhana Metode Otomatis
Model Bangunan dengan Bentuk Atap Kompleks Metode Manual
Gambar 3. Model Bangunan dengan Bentuk Atap Kompleks Metode Manual

Selanjutnya, Gambar 4 berikut menunjukkan visualisasi 3D City Model LOD 2 yang diperoleh setelah seluruh proses pemodelan selesai dilakukan.

Visualisasi 3D City Model
Gambar 4. Visualisasi 3D City Model

Hasil dari model yang dibuat kemudian divalidasi dengan pengukuran lapangan menggunakan alat distometer. Hasil validasi menunjukkan bahwa model 3D memiliki tingkat akurasi yang tinggi, dengan nilai kesalahan terkecil 0,005 meter dan terbesar 0,181 meter, serta nilai Root Mean Square Error(RMSE) sebesar 0,084 meter. Akurasi ini cukup untuk memenuhi standar visualisasi 3D city model dan dapat digunakan dalam berbagai aplikasi perencanaan seperti perencanaan tata ruang, simulasi bencana, manajemen infrastruktur, dan lain sebagainya.

Meski cukup menjanjikan, penggunaan data LiDAR dalam pemodelan 3D juga memiliki tantangan. Bangunan dengan bentuk atap rumit sulit untuk diekstrak secara otomatis dari data point cloud, sehingga membutuhkan pemodelan manual yang lebih memakan waktu.

Beli juga: V700S SLAM RTK

Data LiDAR juga tidak memberikan informasi tekstur atau warna, sehingga untuk menghasilkan model yang lebih realistis, dibutuhkan integrasi dengan data citra seperti foto udara miring (oblique) maupun foto udara tegak (nadir) yang didapatkan dari drone. Selain itu, ukuran data LiDAR yang besar juga memerlukan hardware dan software yang mumpuni.

Pemanfaatan teknologi LiDAR tidak hanya sebatas untuk pemodelan 3D saja, melainkan dapat digunakan secara luas di berbagai sektor lainnya. Dalam bidang kehutanan, LiDAR sangat berguna untuk mengukur tinggi pohon, kepadatan tajuk, volume biomassa, dan bahkan mengidentifikasi spesies vegetasi secara tidak langsung. Dengan LiDAR, pemetaan hutan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien, tanpa harus menebas jalur di dalam hutan lebat.

Dalam bidang pertanian, LiDAR dapat digunakan untuk membuat model kontur tanah dan menganalisis pola drainase, sehingga membantu petani mengelola lahan secara lebih efisien.

LiDAR juga memainkan peran penting dalam mitigasi bencana. Dalam bidang kebencanaan, data LiDAR dapat digunakan untuk membuat Digital Elevation Models (DEM) yang sangat presisi, yang kemudian dapat digunakan untuk memodelkan aliran banjir, longsor, atau potensi gelombang tsunami. Di daerah rawan bencana, model ini menjadi dasar penting dalam perencanaan evakuasi dan pembangunan infrastruktur yang kokoh.

Penelitian yang dilakukan Noviana dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa teknologi LiDAR tidak hanya relevan untuk tujuan akademis, melainkan sangat aplikatif di dunia nyata.

Melihat berbagai potensi dan keberhasilannya di berbagai bidang, teknologi LiDAR dapat dianggap sebagai salah satu instrumen penting dalam pemahaman permukaan bumi. Fungsinya tidak hanya terbatas sebagai alat ukur, tetapi juga mendukung perencanaan, pelestarian lingkungan, serta pengambilan keputusan di masa depan.

 

Penulis: Dhuta Samudra Ruliyalhaq

 

Referensi

  • Noviana, A., Prihatmanti, R., & Mustofa, A. (2021). Pembuatan visualisasi 3D city model dengan memanfaatkan data LiDAR. Jurnal Geoid, 16(1), 54–61. https://doi.org/10.12962/j25970318.v16i1.8010
  • https://id.pinterest.com/

Artikel Lainnya

Scroll to Top
Open chat
Hubungi kami
Hi-Target Indonesia
Chat WhatsApp sekarang untuk konsultasi alat survey terbaik!