Survei GNSS di hutan tropis seperti Kalimantan, Sumatera, dan Papua sering jadi tantangan besar bagi surveyor. Kanopi pohon yang rapat membuat sinyal satelit sulit masuk, sehingga status pengukuran sering berhenti di DGPS atau Float. Kondisi ini jelas berisiko karena data posisi bisa kurang stabil, terutama untuk kebutuhan mining, pemetaan kehutanan, atau boundary survey yang menuntut akurasi tinggi. Kabar baiknya, ada beberapa pendekatan teknis yang terbukti bisa membantu surveyor tetap mendapatkan solusi FIX RTK meskipun bekerja di bawah tutupan vegetasi lebat.
Kenapa Kanopi Hutan Mengganggu Sinyal GNSS?
Masalah utama berasal dari multipath, yaitu sinyal satelit yang memantul pada batang dan daun sebelum diterima antena GNSS. Pantulan ini bisa menyebabkan kesalahan posisi hingga meteran. Selain itu, daun yang basah memiliki kadar air tinggi yang menyerap sinyal L-band sehingga menurunkan kualitas sinyal (C/N0). Kondisi ini juga meningkatkan risiko cycle slip, yaitu putusnya pengamatan fase sinyal yang membuat receiver harus menghitung ulang solusi posisi.
Cara Teknis Mengatasi Gangguan Kanopi
Mengaktifkan multi-konstelasi (GPS, GLONASS, Galileo, dan BeiDou) terbukti meningkatkan jumlah satelit yang bisa diterima sehingga geometri satelit menjadi lebih baik. Receiver GNSS dengan jumlah channel besar juga lebih sensitif menangkap sinyal lemah di sela dedaunan. Selain itu, algoritma tracking modern mampu membedakan sinyal langsung dan sinyal pantulan sehingga solusi posisi tetap stabil.
Tips Lapangan yang Efektif
Supaya pekerjaan survei tetap dapat FIX meskipun di bawah kanopi lebat, gunakan receiver yang memang dirancang untuk kondisi ekstrem. GNSS Hi-Target sudah dilengkapi Teknologi berupa fitur Hi-fix, IMU Tilt Survey, multi-konstelasi lengkap, serta radio internal yang menjaga koneksi tetap stabil di lapangan.
Tingkatkan efisiensi dan akurasi pekerjaan Anda sekarang dengan menggunakan GNSS resmi dari Hi-Target Indonesia. Hubungi distributor resmi Hi-Target Indonesia untuk pembelian, konsultasi alat, atau request demo unit sesuai kebutuhan proyek Anda. Komunikasi base-rover melalui radio UHF atau NTRIP penting untuk menjaga koreksi tetap stabil.
Kesimpulan
Survei GNSS di hutan tropis memang menantang, tetapi bisa diatasi dengan pemahaman teknis dan pemilihan perangkat yang tepat. Penggunaan receiver multi-konstelasi, sensor IMU, serta hardware yang tahan lingkungan lembap terbukti meningkatkan keberhasilan FIX di area vegetasi rapat.
Jika pekerjaan Anda sering berada di medan ekstrem seperti hutan tropis, GNSS dari Hi-Target Indonesia jadi pilihan yang tepat untuk solusi pengukuran yang lebih efektif. Dapatkan perangkat resmi, dukungan teknis profesional, serta layanan purna jual yang siap membantu memastikan pekerjaan survei tetap akurat dan efisien.
Penulis: Herlina
Referensi:
- Hai, Y. et al. (2024). Performance Assessment of GNSS Cycle Slip Behavior Under Vegetation. ION PNT. https://www.ion.org/
- Strunk, J.L. et al. (2025). GNSS Positioning Under Dense Conifer Forest Canopy. USDA PNW. https://www.fs.usda.gov/
- Kim, J. et al. (2012). Multi-Constellation GNSS in Forest. Journal of the Korean Society. http://journal.dcs.or.kr/
- RICS (2017). Use of GNSS in Land Surveying. https://www.rics.org/
- Kamimura, M. et al. (2011). Detection of Cycle Slips and Multipath in GNSS RTK. ION GNSS. https://www.ion.org/
- Yongyun, Z. et al. (2023). Effects of Nearby Trees on GNSS Accuracy. PLOS ONE. https://journals.plos.org/
- Lai, C. et al. (2021). Extend RTK Survey Using INS Pole. http://i2nav.com/
- Sumber gambar : https://mastermutu.co.id/



