Hallo sobat hi-target, pernahkah kamu mendengar apa itu sensor IMU dalam GNSS? yuk kita bahas. Secara prinsip, IMU adalah sensor yang mengukur pergerakan dan orientasi suatu objek tanpa bergantung pada sinyal eksternal. Di lapangan, banyak yang mengira fitur IMU di GNSS itu bikin hasil pengukuran jadi lebih akurat. Padahal, fungsi utamanya bukan di situ.Secara konsep, IMU (Inertial Measurement Unit) adalah sensor yang berfungsi mengukur pergerakan dan orientasi alat tanpa bergantung pada sinyal satelit. Jadi jangan sampai salah ya.
Tiga Komponen IMU
Kamu juga harus tau Kalau IMU itu terdiri atau gabungan dari beberapa sensor yang bekerja dalam satu sistem:
Tiga komponen utamanya berupa :
- Accelerometer → Perangkat ini berfungsi mengukur percepatan
- Gyroscope → Perangkat ini berfungsi mengukur rotasi
- Magnetometer (opsional) → Alat ini membantu menentukan arah berdasarkan medan magnet bumi
Secara konsep, IMU bekerja berdasarkan prinsip dasar mekanika, di mana perubahan posisi bisa dihitung dari percepatan yang direkam terhadap waktu (Groves, 2013).
Di dalam sistem GNSS, IMU bukanlah pengganti GNSS, tapi sebagai “penutup celah” saat GNSS punya keterbatasan dalam pengukuran. Misalnya:
- Saat sinyal satelit terhalang (di bawah pohon atau dekat bangunan)
- Saat posisi alat tidak tegak lurus (tilt)
Maka dari itu, GNSS dan IMU biasanya digabungkan dalam satu sistem yang disebut sensor fusion, yaitu penggabungan dua sumber data untuk menghasilkan estimasi posisi yang lebih stabil.
Tapi perlu dipahami juga, IMU punya kelemahan utama yaitu drift error, yaitu error yang makin besar seiring waktu. Jika IMU digunakan tanpa bantuan GNSS, kesalahan posisinya akan semakin bertambah seiring waktu.
IMU itu bukanlah alat yang digunakan agar GNSS lebih akurat, namun IMU sebagai alat yang membantu agar pengukuran tetap berjalan dan lebih fleksibel di kondisi lapangan yang sulit. Untuk menjaga akurasi jangka panjang, GNSS tetap jadi komponen utama.
Hi-Target melengkapi GNSS dengan sensor IMU, sehingga pengguna tetap dapat melakukan pengukuran tanpa harus selalu menjaga posisi alat tegak lurus. Fitur ini memberikan fleksibilitas, mempercepat pekerjaan, dan menjaga kenyamanan penggunaan di berbagai kondisi lapangan.
Penulis: Herlina
Referensi
- Abidin, H. Z. (2007). Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. Jakarta: Pradnya Paramita.
- El-Sheimy, N. (2005). An overview of mobile mapping systems. FIG Working Week 2005.
https://www.fig.net/resources/proceedings/fig_proceedings/cairo/papers/ts_36/ts36_05_elsheimy.pdf - Groves, P. D. (2013). Principles of GNSS, Inertial, and Multisensor Integrated Navigation Systems (2nd ed.). London: Artech House.
- Hofmann-Wellenhof, B., Lichtenegger, H., & Wasle, E. (2008). GNSS – Global Navigation Satellite Systems: GPS, GLONASS, Galileo, and more. Vienna: Springer.
- Niu, X., Chen, Q., Zhang, Q., Zhang, H., Niu, J., & Shi, C. (2015). Using inertial sensors to improve GNSS positioning performance in urban environments. Journal of Navigation, 68(5), 819–837. https://doi.org/10.1017/S0373463315000188




