Di lapangan, bikin Benchmark (BM) pakai GNSS NTRIP sudah jadi hal biasa. Tinggal nyalain rover, konek internet, beberapa detik kemudian status FIX muncul dan koordinat langsung tersimpan. Praktis dan kelihatan efisien. Tapi pertanyaannya tidak sesederhana itu: seberapa aman koordinat tersebut kalau dipakai ulang setelah satu, dua, atau lima tahun?
Untuk pengukuran harian, RTK NTRIP memang sangat membantu. Namun BM bukan titik kontrol biasa. Titik BM permanen menuntut stabilitas jangka panjang, yaitu koordinat yang tetap konsisten lintas waktu dan epoch pengamatan. Karena koreksi NTRIP bekerja secara real-time dan bergantung pada model jaringan serta kondisi saat pengamatan, pendekatan ini sering mengabaikan aspek stabilitas ketika digunakan sebagai dasar penetapan BM permanen.
NTRIP (Networked Transport of RTCM via Internet Protocol) ADALAH?
NTRIP (Networked Transport of RTCM via Internet) adalah sistem koreksi GNSS berbasis jaringan CORS yang dikirim lewat internet. Metode ini populer karena surveyor tidak perlu memasang base sendiri, baseline dihitung secara Virtual Reference Station (VRS) atau Flächen-Korrektur-Parameter (FKP), dan sangat cocok untuk pekerjaan cepat seperti survei situasi atau kontrol harian. Di Indonesia, layanan CORS BIG dan penyedia swasta membuat NTRIP semakin mudah diakses .
Penggunaan NTRIP untuk BM jangka panjang menimbulkan masalah. BM menuntut stabilitas temporal, bukan sekadar akurasi sesaat. RTK NTRIP memang mampu menghasilkan error horizontal di bawah 2 cm, tetapi angka ini sangat bergantung pada kondisi saat pengukuran. Perubahan konfigurasi reference station, update model koreksi jaringan, serta variasi ionosfer dan troposfer dapat menyebabkan koordinat bergeser antar waktu meskipun status tetap FIX .
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa deviasi koordinat RTK-NTRIP meningkat seiring bertambahnya baseline, khususnya di atas 15–20 km, dan berbeda signifikan dibanding metode static GNSS pada uji statistik 95% confidence. Studi internasional juga mencatat adanya long-term drift pada network RTK akibat keterbatasan pemodelan atmosfer.
Kesimpulan
NTRIP masih aman untuk BM sementara atau kontrol proyek jangka pendek terutama pada baseline pendek. Metode GNSS NTRIP dan RTK tidak direkomendasikan untuk pembuatan BM. Metode static GNSS dengan post-processing menghasilkan koordinat paling stabil untuk BM permanen dalam penggunaan jangka panjang. Dalam penentuan BM, konsistensi hasil uji ulang menentukan kualitas koordinat, bukan kecepatan perolehannya.
Masih bingung milih GNSS yang cocok untuk pengukuran statik sekaligus NTRIP? Receiver yang stabil saat observasi panjang sekaligus responsif dan konsisten untuk pengukuran RTK menjadi kunci utama. Hi-Target merancang GNSS untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut: memberikan hasil statik yang stabil dan repeatable, serta menghadirkan NTRIP dengan proses FIX yang cepat dan andal di berbagai kondisi lapangan. Satu alat, dua metode, tanpa perlu ganti sistem.
Penulis: Herlina
Referensi:
- Dammalage, T. L., Srinuandee, P., Samarakoon, L., Susaki, J., & Srisahakit, T. (2017). Potential accuracy and practical benefits of NTRIP protocol over conventional RTK and DGPS observation methods. Geospatial World. https://geospatialworld.net/ [geospatialworld]
- Odolinski, R., & Teunissen, P. J. G. (2019). Examining the accuracy of network RTK and long base RTK methods with repetitive measurements. Journal of Sensors, 2019, Article ID 3572605. https://onlinelibrary.wiley.com/ [onlinelibrary.wiley]
- Hardiyoso, A. (2024). Uji akurasi hasil pengukuran GNSS metode statik dan RTK-NTRIP dengan referensi CORS GMU2. Jurnal Geodesi dan Geomatika UGM. https://etd.repository.ugm.ac.id/ [etd.repository.ugm.ac]
- [Penulis tidak disebutkan]. (2023). Analisis perbandingan pengukuran GNSS metode statik dan RTK NTRIP. Repository UGM. https://etd.repository.ugm.ac.id/ [etd.repository.ugm.ac]
- [Penulis tidak disebutkan]. (2022). Analisis hasil penentuan posisi metode rapid static dan RTK NTRIP. Repository UGM. https://etd.repository.ugm.ac.id/ [etd.repository.ugm.ac]
- Alkan, R. M., et al. (2015). Robust analysis of network-based real-time kinematic for GNSS-derived heights. Sensors (Basel), 15(11), 28085–28105. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/ [pmc.ncbi.nlm.nih]
- [Penulis tidak disebutkan]. (2017). Evaluasi ketelitian koordinat pengukuran RTK. Repository UGM. https://etd.repository.ugm.ac.id/ [etd.repository.ugm.ac]
- Rohm, A. W., et al. (2018). Impact of tropospheric modelling on GNSS vertical precision. Journal of Spatial Science, 65(1), 105-123. https://www.tandfonline.com/ [tandfonline]
- [Penulis tidak disebutkan]. (n.d.). Analisis pengaruh panjang baseline pada survei. ITN Repository. http://eprints.itn.ac.id/ [eprints.itn.ac]
- [Penulis tidak disebutkan]. (2025). Comparison of static and kinematic GNSS positioning. Journal of Positioning, Navigation, and Timing, 14(3). https://www.jpnt.org/1403-14/ [jpnt]




