Logo Putih Hi-Target Official Distributor - Indonesia

Mengapa Panjang Baseline Sangat Menentukan Akurasi Pengukuran GNSS?

Mengapa Panjang Baseline Sangat Menentukan Akurasi Pengukuran GNSS

Mengapa dua pengukuran GNSS dengan alat dan metode yang sama bisa menghasilkan akurasi yang sangat berbeda? Mengapa pada satu proyek RTK dapat mencapai ketelitian sentimeter, sementara pada proyek lain hasilnya justru melenceng hingga desimeter? Salah satu faktor penentu yang sering diremehkan adalah panjang baseline, yaitu jarak antara base station dan rover. Artikel ini membahas secara kritis bagaimana panjang baseline mempengaruhi akurasi GNSS, baik secara teoritis maupun praktis di lapangan.

 

Pengaruh Panjang Baseline terhadap Akurasi GNSS

Panjang baseline pada pengukuran GNSS secara langsung mempengaruhi akurasi posisi karena perbedaan error atmosfer antara base dan rover yang tidak dapat dimodelkan secara sempurna. Error ionosfer dan troposfer cenderung meningkat seiring bertambahnya jarak, sehingga koreksi diferensial menjadi kurang efektif. Kondisi ini menurunkan ketelitian penyelesaian ambiguitas fase dan meningkatkan noise observasi, terutama pada pengukuran real-time.

Hafiz (2014) menunjukkan bahwa pada baseline panjang, stabilitas solusi RTK menurun karena error fase residual meningkat, sehingga peluang memperoleh fixed solution menjadi lebih kecil dibandingkan baseline pendek (Jurnal Geodesi Undip).

 

Error Atmosfer dan Kegagalan Ambiguitas Fase

Padan. Variasi TEC (Total Electron Content) ionosfer dapat mencapai 1–2 meter jika tidak dikoreksi secara memadai, khususnya pada siang hari saat aktivitas matahari tinggi (Khomsin et al., 2019, Jurnal Geoid).

Selain itu, wet tropospheric delay sangat dipengaruhi oleh perbedaan kelembapan, suhu, dan tekanan lokal. Hafiz (2014) mencatat bahwa pada baseline sekitar 50 km, variasi troposfer dapat meningkatkan RMS error hingga 0,1–0,5 m. Error ini sering kali melampaui ambang toleransi penyelesaian ambiguitas fase (±0,25 siklus), sehingga solusi terpaksa berada pada kondisi float dengan akurasi lebih rendah. baseline panjang (>20 km), gradien ionosfer dan troposfer menjadi semakin signifikan

 

Perbandingan Dampak pada Metode Statik dan RTK

  • Metode Statik

Pada metode statik radial, baseline pendek (<10 km) mampu menghasilkan standar deviasi horizontal <5 cm dengan waktu observasi 15–30 menit, sehingga sangat ideal untuk penentuan GCP fotogrametri drone (Khomsin et al., 2019). Namun, pada baseline 10–20 km, waktu pengamatan perlu ditingkatkan hingga 75–90 menit untuk mencapai akurasi yang setara, karena proses time averaging dibutuhkan untuk meredam noise atmosfer (Jurin, 2021, Jurnal Geodesi dan Geomatika).

  • Metode RTK (Real Time Kinematic)

RTK, adalah salah satu metode pengukuran menggunakan GNSS yaitu Real Time Kinematic. Dalam metode RTK ini koordinat didapatkan secara langsung saat di lapangan. Pengukuran RTK khususnya RTK-NTRIP, jauh lebih sensitif terhadap panjang baseline. Hafiz (2014) melaporkan bahwa pada baseline sekitar 1 km, simpangan horizontal masih berada di kisaran ±0,092 m (skala peta 1:500). Namun, ketika baseline meningkat hingga ±57 km, error horizontal melonjak menjadi ±0,765 m (skala 1:1000). Hal ini disebabkan koreksi real-time tidak cukup robust terhadap multipath, cycle slip, dan dinamika atmosfer pada jarak jauh.

 

Dampak operasional di lapangan 

Surveyor masih dapat menoleransi baseline panjang (>30 km) pada kondisi tertentu, seperti area terbuka dengan efek multipath minimal, nilai PDOP < 2, serta dukungan base station CORS yang stabil (misalnya InaCORS BIG), terutama untuk pekerjaan topografi skala luas atau pertambangan (Jurin, 2021). Surveyor sebaiknya menghindari pengukuran pada periode ionosfer aktif (sekitar pukul 10.00–13.00 WIB) serta saat hujan lebat yang memperkuat efek troposfer.

Beli juga: V700S SLAM RTK

Sebaliknya, baseline pendek (<10 km) menjadi keharusan pada lingkungan urban padat bangunan, area dengan vegetasi lebat, atau pekerjaan kadastral berpresisi tinggi, di mana fixed ratio di atas 95% merupakan syarat mutlak (Khomsin et al., 2019).

Panjang baseline adalah faktor fundamental dalam menentukan akurasi pengukuran GNSS. Untuk RTK presisi tinggi dengan target akurasi <5 cm, baseline ideal berada di bawah 10 km. Metode statik masih memungkinkan toleransi baseline hingga 20–50 km selama kondisi lapangan ideal dan surveyor memperpanjang waktu observasi lebih dari satu jam. Praktik terbaik meliputi pemilihan base terdekat, pengecekan baseline preview pada receiver, serta validasi hasil melalui post-processing dan network adjustment.

Untuk meminimalkan risiko error akibat baseline dan mempercepat tercapainya fixed solution, penggunaan Hi-Target iRTK5 dan juga  VRTK satu set (base dan rover) sangat direkomendasikan. Kombinasi receiver berperforma tinggi, dukungan multi-konstelasi, serta stabilitas komunikasi data akan secara signifikan mempermudah pengukuran GNSS harian, baik untuk pengukuran metode RTK maupun metode statik presisi tinggi.

 

Penulis: Herlin

 

Referensi:

Artikel Lainnya

Scroll to Top
Open chat
Hubungi kami
Hi-Target Indonesia
Chat WhatsApp sekarang untuk konsultasi alat survey terbaik!