Hai sobat Hi-target Pernahkah kalian merasa data hasil pengukuran menggunakan GNSS metode statik kurang akurat, padahal alat sudah dual-frequency dan durasi pengamatan sudah sangat lama? Dan juga kenapa pengukuran pagi hari sering terasa lebih stabil dibanding siang hari, meskipun titik dan alatnya sama?
Di lapangan, kondisi ini sering kali terjadi. Penyebab utamanya hampir selalu berkaitan dengan dua faktor penting yang kerap diremehkan yaitu kondisi atmosfer (khususnya ionosfer) dan geometri satelit saat pengamatan GNSS dilakukan.
Gangguan Ionosfer pada Sinyal GNSS

Ionosfer adalah lapisan atmosfer yang dipenuhi elektron bebas akibat radiasi matahari. Saat sinyal GNSS melewati lapisan ini, kecepatannya berubah dan menimbulkan ionospheric delay. Dampaknya, jarak yang dihitung receiver tidak lagi murni jarak geometrik.
Receiver GNSS dual-frequency memang mampu mengurangi pengaruh ionosfer secara signifikan. Namun pada pengukuran statik dengan baseline panjang, sisa error masih bisa memengaruhi proses fixing ambiguitas fase, terutama saat ionosfer sedang aktif.
Pengaruh Waktu Pengamatan
Secara umum, siklus harian matahari sangat memengaruhi kualitas data GNSS:
- Siang hari (±10.00–14.00) merupakan kondisi terburuk karena aktivitas ionosfer tinggi dan risiko cycle slip meningkat.
- Malam hari relatif lebih stabil, tetapi di wilayah ekuator seperti Indonesia perlu waspada terhadap ionospheric scintillation setelah matahari terbenam.
- Pagi hari (±06.00–09.00) sering menjadi waktu paling ideal karena ionosfer belum terlalu padat dan geometri satelit biasanya lebih baik.
TEC, PDOP, dan Error Koordinat
Nilai Total Electron Content (TEC) yang tinggi berkorelasi langsung dengan meningkatnya error GNSS, terutama pada komponen vertikal. Hidayat et al. (2020, SINTA 2) menunjukkan bahwa variasi TEC di wilayah ekuator sangat mempengaruhi ketelitian elevasi.
Selain itu, PDOP juga krusial. PDOP rendah (<3) menandakan geometri satelit ideal. Kombinasi TEC tinggi dan PDOP buruk akan memperbesar kesalahan posisi meskipun durasi pengamatan panjang.
Kesimpulan
Pengukuran GNSS statik bukan hanya soal alat dan durasi, tetapi juga soal waktu dan kondisi pengamatan. Pagi dan malam hari biasanya memberikan kondisi GNSS yang lebih stabil daripada siang hari. Memahami pengaruh ionosfer, TEC, dan PDOP adalah kunci agar hasil pengukuran stabil dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
Untuk menghadapi tantangan ionosfer dan geometri satelit di lapangan, surveyor membutuhkan receiver GNSS yang stabil, sensitif, dan adaptif terhadap kondisi lingkungan. GNSS Hi-Target iRTK5 mengusung teknologi multi-konstelasi dan performa tracking yang andal, sehingga mampu menjaga kualitas data bahkan pada kondisi atmosfer yang menantang.
Jika Anda ingin pengukuran statik lebih konsisten, fixing lebih cepat, dan hasil koordinat lebih tenang, saatnya menggunakan solusi GNSS yang tepat.
Hubungi Hi-Target Indonesia untuk pembelian GNSS iRTK 5 dan rekomendasi GNSS lainnya yang sesuai kebutuhan proyek Anda.
Penulis: Herlina
Referensi
- Hidayat, R., et al. (2020). Analisis pengaruh variasi ionosfer terhadap ketelitian posisi GNSS di wilayah Indonesia. Geomatics and Planning, 7(2). https://ejournal2.undip.ac.id
- Awaluddin, M., Sabri, L. M., & Amarrohman, F. J. (2022). Analisis ketelitian pengamatan GNSS metode statik dengan variasi durasi pengamatan di wilayah ekuator. Jurnal Geodesi Undip, 11(1). https://ejournal3.undip.ac.id
- Sari, N. M., & Jumarang, M. I. (2018). Karakteristik variasi total electron content (TEC) ionosfer di atas wilayah Indonesia menggunakan data GPS. Prisma Fisika, 6(3). https://jurnal.untan.ac.id
- Syaifullah, M. S., et al. (2021). Analisis korelasi aktivitas matahari terhadap bias ionosfer pada pengukuran GNSS berdasarkan data IGS. ELIPSOIDA: Jurnal Geodesi dan Geomatika, 4(1). https://ejournal2.undip.ac.id
- Sumber gambar: https://geo-matching.com/




